Apa Itu Pengertian Receiver

√ Apa Itu Pengertian Receiver, Cara Kerja Hingga Aplikasinya

Diposting pada

Elektronikindo.com – √ Apa Itu Pengertian Receiver, Cara Kerja Hingga Aplikasinya. Dalam dunia teknologi komunikasi modern, receiver merupakan salah satu komponen krusial yang sering kali menjadi pusat perhatian. Receiver adalah alat atau perangkat elektronik yang berperan penting dalam menerima sinyal atau informasi dari transmitter atau pengirim. Secara umum, receiver berfungsi untuk mengubah sinyal elektromagnetik yang diterima menjadi bentuk yang dapat dimengerti atau digunakan oleh pengguna.

Proses kerja receiver melibatkan proses demodulasi, di mana sinyal yang diterima diubah dari bentuk gelombang elektromagnetik menjadi bentuk data atau informasi yang dapat ditampilkan atau digunakan, seperti suara, gambar, atau data digital.

Penerapan receiver sangat luas, mulai dari penggunaan dalam sistem komunikasi nirkabel seperti radio dan televisi, hingga dalam komunikasi data seperti jaringan internet. Di era digital saat ini, receiver juga merupakan komponen penting dalam pemrosesan sinyal digital dan transmisi data, seperti dalam sistem satelit, komunikasi seluler, dan jaringan komputer.

Kemampuan receiver dalam mengonversi sinyal menjadi informasi yang dapat digunakan membuatnya menjadi elemen vital dalam mendukung berbagai aplikasi teknologi modern yang bergantung pada transmisi dan penerimaan informasi secara efisien dan akurat.

Apa Itu Pengertian Receive

Salah satu perangkat penerima gelombang yang umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah receiver. Receiver berperan penting dalam menerima dan mengubah sinyal-sinyal seperti gelombang radio menjadi informasi yang berguna.

Sebagai contoh, dalam konteks telekomunikasi, transmitter akan mengirimkan gelombang suara yang kemudian diterima oleh receiver. Proses ini melibatkan pengambilan gelombang elektromagnetik yang diterima oleh antena receiver, di mana sinyal tersebut kemudian diolah dan didekodifikasi untuk menghasilkan suara yang bisa didengar oleh penerima.

Dalam konteks komunikasi modern, receiver memiliki peran yang sama pentingnya dengan transmitter. Tanpa receiver yang handal, proses komunikasi tidak akan berjalan efektif. Misalnya, dalam aplikasi televisi, receiver mengonversi sinyal magnetik dan elektronik dari stasiun pemancar menjadi gambar dan suara yang dapat dinikmati oleh pemirsa.

Keberadaan receiver ini tidak hanya memfasilitasi penerimaan sinyal untuk hiburan seperti televisi dan radio, tetapi juga mendukung berbagai aplikasi teknologi lainnya seperti navigasi GPS, komunikasi seluler, dan komputerisasi data yang mengandalkan transmisi dan penerimaan informasi secara efisien dan akurat.

Cara Kerja Receiver

Berdasarkan proses pengolahan sinyal yang terjadi, receiver dapat dibagi menjadi dua jenis utama: Straight receiver dan Superheterodyne receiver. Masing-masing jenis receiver ini memiliki proses dan cara kerja yang berbeda.

A. Straight Receiver (Penerima Radio Langsung)

Straight receiver langsung mendemodulasi sinyal yang diterima tanpa melalui proses mixing seperti yang terjadi pada Superheterodyne Receiver. Penggunaan receiver jenis ini mulai menurun karena kurangnya keunggulan dalam selektivitas dan sensitivitas.

Berikut ini adalah bagian-bagian dan proses yang terjadi pada straight receiver.

1. Antena

Antena adalah komponen pertama dalam receiver yang berfungsi untuk menangkap sinyal gelombang radio yang dikirim oleh transmitter. Antena ini bekerja dengan menangkap energi elektromagnetik dari udara dan mengubahnya menjadi sinyal listrik yang dapat diolah lebih lanjut oleh receiver.

2. RF Tuning

Setelah sinyal ditangkap oleh antena, proses RF Tuning dilakukan untuk menyeleksi sinyal yang akan diproses lebih lanjut. RF Tuning mencari frekuensi resonansi yang sama dengan sinyal carrier yang membawa informasi yang diinginkan. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan penerimaan sinyal yang spesifik dan mengurangi gangguan dari sinyal lainnya.

3. Detection / Demodulation

Proses Detection atau Demodulation merupakan tahap penting dalam receiver di mana sinyal informasi dipisahkan dari sinyal pembawa (carrier). Ini dilakukan dengan mengubah sinyal modulasi dari bentuk yang termodulasi kembali menjadi bentuk sinyal informasi aslinya, seperti suara, gambar, atau data digital.

4. Amplifying

Setelah dipisahkan dari carrier, sinyal informasi biasanya cukup lemah. Pada tahap Amplifying, sinyal tersebut diperkuat untuk memastikan bahwa informasi yang dihasilkan memiliki kekuatan yang cukup untuk ditampilkan atau diinterpretasikan dengan jelas.

5. Bagian Alat Suara

Terakhir, sinyal informasi yang telah diperkuat diubah kembali menjadi bentuk aslinya. Pada bagian ini, alat seperti speaker digunakan untuk mengubah sinyal listrik menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh manusia. Proses ini memungkinkan pengguna untuk mendengarkan suara, melihat gambar, atau mengakses informasi dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

B. Receiver Superheterodyne

Pada Receiver superheterodyne, terjadi proses mixing yang menggabungkan dua sinyal untuk menghasilkan sinyal frekuensi yang lebih rendah yang disebut intermediate-frequency (IF). Dengan menggunakan sinyal frekuensi yang lebih rendah ini, receiver dapat lebih efektif dalam pengolahan dan pemrosesan sinyal. Berikut adalah bagian-bagian dan proses yang terjadi pada Receiver Superheterodyne:

1. Antena

Antena merupakan komponen pertama dalam Receiver Superheterodyne yang berperan penting dalam menangkap sinyal yang dikirim oleh transmitter. Antena bekerja dengan mengubah energi gelombang elektromagnetik menjadi sinyal listrik yang kemudian dapat diolah lebih lanjut oleh receiver.

2. RF Tuning

Setelah sinyal ditangkap oleh antena, tahap RF Tuning dilakukan untuk menyeleksi sinyal yang mengandung informasi yang dibutuhkan. Proses ini memastikan bahwa receiver hanya menerima sinyal pada frekuensi tertentu yang sesuai dengan sinyal carrier yang membawa informasi yang diinginkan.

3. Heterodyne Local Oscillator

Heterodyne Local Oscillator adalah bagian penting dari Superheterodyne Receiver yang bertugas untuk menghasilkan sinyal osilator lokal dengan frekuensi yang sama dengan intermediate-frequency (IF). Frekuensi IF yang umum digunakan biasanya sekitar 455 kHz. Osilator lokal ini membantu dalam proses mixing untuk mengubah sinyal masukan menjadi frekuensi yang lebih rendah dan lebih mudah untuk diolah.

4. Mixer

Pada tahap Mixer, receiver mencampurkan sinyal yang diterima dari antena dengan sinyal yang dibangkitkan oleh local oscillator. Proses mixing ini menghasilkan intermediate-frequency (IF) yang merupakan hasil dari perbedaan frekuensi antara sinyal masukan dan sinyal osilator lokal. IF yang dihasilkan ini menjadi sinyal utama yang akan diproses lebih lanjut dalam tahap demodulasi untuk memisahkan informasi yang diinginkan dari sinyal carrier.

Dengan rangkaian proses ini, Superheterodyne Receiver mampu meningkatkan selektivitas, sensitivitas, dan kinerja keseluruhan dalam menerima dan memproses sinyal, yang menjadikannya pilihan utama dalam berbagai aplikasi komunikasi dan penerimaan radio.

5. IF Filter dan Amplifier

Setelah menghasilkan intermediate-frequency (IF), proses selanjutnya pada Superheterodyne Receiver adalah IF Filter dan Amplifier. IF Filter berfungsi untuk menyaring sinyal-sinyal dengan frekuensi yang berbeda dari frekuensi IF. Sinyal-sinyal ini merupakan produk dari proses pencampuran yang tidak diinginkan dan tidak mengandung informasi yang relevan. Dengan menggunakan filter ini, receiver dapat mengisolasi dan memperkuat sinyal IF yang penting untuk diproses selanjutnya.

Selain itu, dalam tahap ini terdapat Automatic Gain Control (AGC) yang berperan penting. AGC secara otomatis mengatur penguatan sinyal IF agar tetap pada tingkat yang optimal. Hal ini penting karena sinyal yang diterima bisa bervariasi dalam kekuatan dan intensitasnya, sehingga AGC memastikan bahwa sinyal yang dihasilkan tetap stabil dan mudah diolah.

6. Detection / Demodulation

Setelah melalui proses filtering dan amplifikasi IF, tahap Detection atau Demodulation dilakukan untuk mengambil informasi yang terkandung dalam sinyal IF. Pada tahap ini, sinyal informasi dipisahkan dari sinyal pembawa (carrier) menggunakan low pass filter. Filter ini membuang frekuensi termodulasi yang tidak diinginkan, sehingga hanya informasi asli yang tersisa. Hasil dari proses demodulasi ini adalah sinyal informasi yang dapat diterjemahkan kembali menjadi bentuk aslinya, seperti suara, gambar, atau data digital, sesuai dengan jenis aplikasi yang digunakan oleh receiver.

7. Audio Amplifier

Setelah sinyal informasi melewati proses demodulasi, tahap selanjutnya adalah Audio Amplifier. Pada tahap ini, sinyal informasi yang sudah dimodulasi akan diperkuat atau dikuatkan lebih lanjut. Amplifikasi ini penting untuk memastikan bahwa sinyal audio memiliki kekuatan yang cukup untuk dapat dihasilkan oleh speaker dengan suara yang jelas dan nyaring. Dalam beberapa receiver, terdapat potensiometer antara demodulator dan speaker yang memungkinkan pengguna untuk mengatur volume atau kekuatan suara sesuai dengan preferensi mereka.

8. Speaker

Speaker merupakan perangkat akhir dalam rangkaian receiver yang berfungsi untuk mengubah sinyal informasi yang sudah dikuatkan menjadi gelombang suara yang dapat didengar dan dipahami oleh manusia. Sinyal listrik yang dihasilkan dari proses sebelumnya dikonversikan oleh speaker menjadi getaran suara dalam frekuensi yang dapat didengar oleh telinga manusia. Speaker pada receiver dapat berupa komponen kecil pada perangkat portabel atau sistem audio yang lebih besar dalam aplikasi seperti home theater atau sistem audio mobil. Dengan adanya speaker, receiver mampu menghadirkan pengalaman audio yang memuaskan dan sesuai dengan tujuan penggunaan dari perangkat tersebut.

Contoh Receiver Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Berikut ini kami sajikan beberapa perangkat receiver yang dapat menerima sinyal dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat dipahami oleh manusia.

1. Televisi

Salah satu contoh penggunaan receiver adalah pada televisi. Televisi menggunakan receiver untuk mengubah sinyal magnetik dan elektronik menjadi gambar dan video beserta suaranya. Di setiap televisi, terdapat stasiun pemancar gelombang televisi yang mengirimkan sinyal-sinyal ini.

Sinyal televisi ini kemudian dapat ditangkap oleh antena atau parabola yang biasanya terpasang di setiap rumah. Setelah itu, dalam televisi terdapat Integrated Circuit (IC) yang berfungsi untuk memproses sinyal-sinyal ini. Sinyal yang diterima kemudian diubah menjadi gambar dan video lengkap dengan suara sesuai dengan format yang ditampilkan di layar televisi.

2. Radio

Selain televisi, contoh lainnya adalah radio, meskipun cara kerjanya berbeda dengan televisi. Jika televisi mengubah sinyal elektronik menjadi video, radio justru mengubah sinyal gelombang radio dan modulasi menjadi sinyal audio. Sinyal audio ini kemudian dapat didengar oleh manusia melalui panca indera pendengaran.

Receiver pada radio berfungsi dengan prinsip yang hampir sama dengan televisi, yaitu mengandalkan pemancar gelombang untuk mengirimkan sinyalnya. Antena pada radio berperan penting dalam menangkap gelombang radio yang kemudian diubah menjadi sinyal audio yang dapat dinikmati oleh pendengar.

3. Handy Talkie

Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, handy talkie berfungsi untuk melakukan komunikasi dua arah atau lebih. Handy talkie bergantung pada penerima yang menggunakan frekuensi sinyal radio untuk menerima dan mengirim informasi.

Handy talkie memiliki batasan jarak maksimal sekitar 2,5 kilometer untuk menjaga kualitas komunikasi yang jernih. Di luar jarak ini, receiver handy talkie tidak dapat menangkap sinyal dari frekuensi radio dengan baik, yang dapat mengakibatkan suara yang tidak jelas atau bahkan tidak terdengar sama sekali.

4. Telepon

Receiver merupakan komponen krusial dalam berkomunikasi. Contoh lainnya adalah telepon, yang dianggap lebih unggul dibandingkan handy talkie karena kemampuannya untuk mengirimkan SMS dan pesan suara.

Sebelum kehadiran internet, telepon dipilih sebagai teknologi komunikasi yang sangat efektif karena keterbatasan opsi komunikasi pada saat itu. Ini menjadikan telepon sebagai receiver combo terbaik dalam era tersebut.

5. Parabola

Parabola merupakan perangkat penangkap sinyal yang penting untuk menonton siaran televisi dengan kualitas baik. Untuk dapat berfungsi, parabola memerlukan sebuah penerima yang bertugas mengonversi sinyal dari LNB (Low Noise Block) yang diterima oleh antena parabola.

Penerima pada parabola bermacam-macam jenisnya, termasuk yang menggunakan teknologi seperti MPEG2, MPEG4, dan HD, yang mampu menyajikan gambar visual yang memukau dari berbagai saluran televisi. Parabola dapat disetting sesuai dengan preferensi pengguna, dan tidak jarang orang mencari informasi tentang cara mengubah receiver parabola menjadi TV digital.

BACA JUGA :

Kesimpulan

Dalam kesimpulan, receiver adalah komponen penting dalam teknologi komunikasi modern yang memainkan peran kunci dalam menerima dan mengolah berbagai jenis sinyal, mulai dari gelombang radio hingga sinyal digital.

Dengan cara kerja yang beragam, seperti demodulasi dan amplifikasi, receiver memungkinkan kita untuk menikmati audio, video, dan data secara efisien dan jernih.

Aplikasinya pun sangat luas, mencakup berbagai perangkat seperti televisi, radio, telepon, dan bahkan sistem navigasi satelit.

Dengan terus berkembangnya teknologi, peran receiver terus menjadi krusial dalam memfasilitasi interaksi dan pertukaran informasi di era digital ini.

Demikianlah artikel elektronikindo.com yang membahas tentang √ Apa Itu Pengertian Receiver, Cara Kerja Hingga Aplikasinya. Semoga artikel kami dapat bermanfaat dan terimakasih telah membaca artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *